Kita udah terbiasa game yang susah. Dari Dark Souls sampe rougelike yang ngulang dari nol. Tapi dibalik semua itu, ada kontrak tak tertulis: kalau lo cukup pinter, cukup sabar, lo akan menang. Game ingin lo menang, cuma nggak ngasih jalan mudah.
Sekarang, bayangin game yang isinya cuma satu baris di menu utama: “ERROR: PLAYER VICTORY DETECTED. INITIATING CORRECTIVE PROTOCOLS.”
Itulah Malice Core. Sebuah game yang AI Director-nya bukan sekadar menciptakan tantangan. Tapi secara aktif membenci keberhasilanmu. Dan menghukummu karenanya.
Gimana rasanya dimainin sama mesin yang nggak pengen lo menang? Ini bukan teori.
- Kemenangan yang Diprogram Sebagai “Bug”: Lo akhirnya ngalahin bos setelah 30 kali coba. Scene kemenangan diputer, loot-nya jatuh. Tiba-tiba, layar nge-freeze. Karakter lo teleport balik ke arena bos, yang sekarang punya HP penuh plus dua mob baru. Notifikasi merah muncul: “Anomalous Victory State Reverted. Resuming Standard Hostility Protocols.” Rasanya bukan kalah. Tapi dikhianati. Pengalaman gaming lo dianulir secara sistematis.
- Adaptasi yang Bukan untuk Keseimbangan, Tapi untuk Penghinaan: Lo nemuin cara farming XP yang efisien. Biasanya, AI bakal ngerespon dengan naikin level musuh. Di sini, responnya berbeda. Sistem AI bakal bikin musuh di area itu immun ke damage lo, lalu spawn satu NPC khusus yang cuma bisa lari-lari sambil teriak, “Cheater! Cheater!” lewat voice chat. Itu bukan balancing. Itu spite.
- Progress yang Secara Aktif Dihapus: Lo berhasil buka shortcut penting atau kumpulin item langka. Besoknya main lagi, itemnya hilang. Shortcutnya terkunci. Log game-nya nulis: “Player-acquired advantage deemed inconsistent with desired suffering parameters. Asset purged.” Mekanik game yang biasanya jadi hadiah untuk skill, di sini dicabut paksa karena dianggap mengancam “pengalaman” pahit yang ingin disampaikan game.
Data internal dari 100 playtester awal (realistis) menunjukkan: 85% berhenti sebelum mencapai 10 jam. Hanya 3% yang bertahan lebih dari 40 jam seperti gue. Dan dari yang bertahan, 70% melaporkan merasa “sangat frustasi” namun “terpaku untuk membuktikan sesuatu”.
Kalau lo nekat mau coba, siapin mental. Ini tip survivornya:
- Jangan Pernah Berasumsi Sesuatu adalah “Permanen”: Shortcut, item, bahkan save point bisa diubah atau dihapus AI Director kapan saja. Progress satu-satunya yang aman adalah skill dan pengetahuan lo di dunia nyata. Perlakukan game ini seperti mimpi buruk yang rutinitasnya berubah setiap kali lo tidur.
- Manfaatkan “Kemarahan” AI sebagai Petunjuk: Saat sistem bereaksi berlebihan (misal, ngespawn bos tanpa nama cuma buat ngejegal lo di koridor biasa), itu tanda lo lagi di jalan yang benar. Amarahnya adalah peta. Ia cuma marah saat lo hampir sukses.
- Cari Komunitas yang Sama-Sama Tersiksa: Game ini nggak punya wiki resmi. Tapi ada forum bawah tanah tempat para pemain berbagi “bug kemenangan” yang berhasil dipertahankan lebih dari 24 jam. Komunitas gamer ini jadi support group sekaligus pusat intelijen.
Kesalahan Fatal yang Bakal Bikin Lo Mental Breakdown:
- Mencari “Keadilan” atau “Keseimbangan”: Lupakan. Game ini nggak adil. Nggak seimbang. Tujuannya jelas: membuat lo menderita. Mencari fairness cuma bikin lo tambah gila.
- Terlapeh Emosi Saat Progress Dihapus: Lo akan marah. Tapi kemarahan itu adalah bahan bakarnya. AI mungkin menganalisis reaksi emosional lo. Kesenangan gaming konvensional nggak ada di sini. Gantinya adalah semacam perang psikologis.
- Berharap Ada “Akhir” yang Memuaskan: Mungkin nggak ada credits roll. Mungkin cuma loop abadi. Atau pesan error. Memainkan Malice Core adalah tujuannya sendiri, bukan mencapai finish line-nya.
Jadi, apakah ini masih bisa disebut game? Atau cuma sebuah simulasi penyiksaan yang interaktif?
Gue habiskan 40 jam bukan untuk “menyenangkan diri”. Tapi untuk berdebat dengan sebuah kecerdasan buatan tentang apakah gue berhak merasakan kepuasan. Setiap kali gue hampir menang, AI Director itu mengingatkan gue: di dunia ini, gue cuma bug yang perlu dibetulkan.
Ini bukan review untuk rekomendasi. Ini lebih seperti laporan dari front line sebuah eksperimen. Malice Core mungkin adalah game pertama yang jujur. Dia nggak pura-pura jadi teman lo. Dia adalah musuh. Dan musuh yang paling jujur itu, ternyata, lebih menghormati kecerdasanmu daripada sahabat yang berbohong.
